28 September 2014

Kedaulatan Rakyat Diralat, Kenanglah Mereka

BY forum kota digital IN ,

Forum Kota Digital 28 Septembet 2014, Manusia mati meninggalkan nama. Agaknya, tak ada yang ingin mewariskan sesuatu yang buruk untuk dikenang. Chairil Anwar menulis sajak “Karawang-Bekasi” (1948). “Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi/ Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak/ Kenang, kenanglah kami/ Teruskan, teruskan jiwa kami/ Menjaga Bung Karno menjaga Bung Hatta menjaga Bung Sjahrir...”

Senayan, 26 September 2014. Wakil rakyat yang bersidang telah memilih cara untuk dikenang. Dengan gurauan pemimpin sidang, dan sedikit drama walkout Fraksi Partai Demokrat, sebanyak 226 anggota dewan yang terhormat seakan memilih berjalan mundur. Kembali ke era lama: Orde Baru. Masa di mana demokrasi diwakilkan pada “sekelompok kecil orang-orang berderajat tinggi”.

Inilah riwayat yang ditoreh pada Jumat dini hari, di saat sebagian kita sedang hendak merebahkan penat. Layar televisi memberikan kabar, pada gambar bergerak kita melihat orang-orang berpakaian necis, menyebut kata rakyat berulang-ulang. Dengan retorika yang lihai, di antara mereka ada yang menyematkan “daulat” pada kata rakyat. Memukau.

Lalu, setelah kata rakyat yang diulang-ulang, demi rakyat berdaulat, dan pelbagai ungkapan hebat: kedaulatan itu diralat di gedung rakyat. Sekali lagi memukau. Retorika yang lihai itu mungkin telah direncanakan dengan begitu saksama.

Retorika. Seni berpidato yang bombastis, begitulah Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan keterampilan berbahasa ini. Retorika seakan diyakini akan dapat mengecoh kesadaran publik. Bisa jadi, sesungguhnya mereka menduga bahwa siasat untuk meralat daulat rakyat akan efektif dan diamini sebagai langkah yang  menegakkan kepentingan umum.

Publik bisa bersilang pendapat akan hasil akhir sebuah permufakatan elite ini. Tapi, di balik semua yang terjadi, publik dapat pula menjadikannya sebagai catatan bahwa kadang sesuatu yang digadang-gadang dalam retorika yang terampil tak selalu satu kata dengan perbuatan.

Politik pada tataran ideal adalah tempat di mana kebajikan dapat disandarkan. Namun, dalam diktum tertentu, akhirnya politik dilihat sebagai pat gulipat juga tipu muslihat. Pada rumus ini,  politik tabir asap akan menyesaki ruang publik. Pandangan publik disamarkan oleh politik kesan dengan pakaian kebesaran. 

Pada pantulan inilah tiap-tiap akal sehat akan mengingat. Setiap langkah yang dibuat adalah catatan yang merekam jejak. Mungkin ini, diangankan akan lamat-lamat lewat dari kenangan rakyat. Pandangan ini, bisa jadi, disandarkan pada anggapan bahwa publik hidup dalam ingatan yang singkat.
“Kami sekarang mayat/ Berikan kami arti/ Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian/ Kenang, kenanglah kami /yang tinggal tulang-tulang diliputi debu...”

Begitulah Chairil ingin generasinya dikenang. Berjaga di garis batas pernyataan dan impian. Ia mewariskan cita-cita. Menitipkan kata: Merdeka. Mewasiatkan kesaksian pada tanah air: pada Bung Karno, pada Bung Hatta, pada Bung Sjahrir. Alhasil, pada batas pernyataan dan impian: dengan apa orang terhormat ingin dikenang ? 


(dadang rhs)

Iklan Anda