16 Oktober 2014

MANAGEMENT PERBEDAAN ALA JOKOWI

BY forum kota digital IN , ,

Forum Kota Digital 16 Oktober 2014, Nampak demikian mencolok perbedaan alur politik di parlemen pasca pilpres 2014. Dua kubu (Koalisi Indonesia Hebat dan Koalisi Merah Putih) saling bersitegang dalam memperjuangkan alur politiknya, hingga terkesan lebih kepada upaya merebut kekuasaan ketimbang memberi rasa nyaman kepada masyarakat. Ini terbukti kuatnya timbul kekhawatiran masyarakat akan terjadi hambatan pada pemerintahan Jokowi dalam menjalankan pemerintahannya, sebab parlemen ‘dikuasai’ oleh koalisi Merah Putih. 
 
Banyak masyarakat menilai, upaya politik yang terjadi di parlemen yang setengah mengabaikan musyawarah untuk mufakat itu hanyalah upaya kelompok untuk menguasai parlemen. “Kalah di Pemilihan Presiden, harus menguasai parlemen sebagai nilai tukarnya”. Demikian kira-kira opini masyarakat atas perang tanding yang terjadi di parlemen. Kenyataannya, kini koalisi Merah Putih yang nota bene sebagai kendaraan pengusung dan pendukung Prabowo Subianto dalam Pilpres telah ‘menguasai parlemen’,sementara koalisi Indonesia Hebat memegang kuasa eksekutip. Jika nuansa demikian terus tertanam,  blok-blok kekuasaan yang demikian ril adanya, maka dapat dipastikan bakal terjadi penyendatan pembangunan di negeri ini. Rakyat yang merugi.
 
Sebagai negarawan, Joko widodo yang juga  sebagai presiden terpilih agaknya sadar akan hal itu, dengan jiwa yang lembah manah serta kesadarannya sebagai negarawan, Jokowi melakukan upaya pendekatan ke semua partai yang tergabung dalam Koalisi Merah Putih. Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Hatta Radjasa yang juga sebagai calon wapres pendamping Prabowo telah disambangi Jokowi. Kabarnya bukan upaya peleburan Koalisi Merah Putih yang diupayakan Jokowi, namun lebih kepada upaya bersama-sama mengemban tugas sebagai negarawan serta mengajak bergabung ke dalam pemerintahan yang dipimpinnya untuk memajukan Indonesia. Banyak permasalahan kenegaraan yang didiskusikan kedua negarawan tersebut.
 
Demikian pula yang dilakukan Jokowi terhadap Aburizal Bakry (ARB). Bersama Ketua Partai Golkar ini Jokowi membincangkan permasalahan Indonesia kedepan dan berbagai pemecahan permasalahannya. Nyatanya, para tokoh Koalisi Merah Putih pun membuka peluang untuk melakukan komunikasi dengan Jokowi. Ini membuktikan bahwa masih ada kesadaran bahi para elite untuk mengedepankan pembangunan Negara ketimbang hal lain yang hanya membuang-buang energi.
 
Menanggapi pertemuan Jokowi – ARB, Helmy Yahya petinggi Partai Golkar yang juga sebagai juru bicara koalisi Merah Putih di salah satu stasiun TV sawasta menyatakan, merupakan hal positip jokowi membangun komunikasi dengan para elite (utamanya elite Koalisi Merah Putih) dan nyatanya juga ARB membuka kesempatan untuk itu, dan hal itu tak perlu menjadi pembicaraan yang dibesar-besarkan, kata Helmy. Justeru yang perlu dijadikan perbincangan tokoh yang tidak mau diajak komunikasi, tambahnya.
 
Helmy juga mengeluhkan, selama ini Koalisi Merah Putih dianggap kolalisi yang menakutkan dan merupakan suatu ancaman di parlemen, tapi nyatanya, para elitenya kini teruka untuk berkomunikasi dengan Jokowi. Ini membuktikan kalau koalisi Merah Putih pukanlah ancaman yang menakutkan dan akan melakukan tugas sesuai dengan fungsinya di parlemen, kata Tantowi. Lagi-lagi Helmy menegaskan, pihaknya akan mendukung segala program Pemerintahan Jokowi, selagi program tersebut pro terhadap rakyat.
 
Banyak kalangan menilai, upaya Jokowi dalam merajut perbedaan yang ada, merupakan hal positip dan bukti tingginya kesadaran Jokowi sebagai negarawan. Diharapkan perbedaan yang ada, kedepan justeru menjadi piranti pemacu pembangunan yang lebih positip, dan upaya tersebut bukanlah merupakan suatu kekhawatiran bakal terjadinya penjegalan di parlemen atas pemerintahannya.
Demikian pula harapan masyarakat, agar para negarawan memiliki kesadaran penuh dalam membangun bangsa dan negara ini untuk menjadi lebih baik, dan semoga upaya merajut perbedaan yang dilakukan Jokowi tidak menjadi kesia-siaan, atau bahkan sebagai alat bunuh diri. Namun, lebih kepada penambahan khasanah penguatan musyawarah untuk mufakat dalam memajukan Indonesia di segala bidang
. (Mas Andra)

Iklan Anda