3 Desember 2014

"Saya Ngga Mau Kenal Bapak, Kalo Bapak Korupsi"

BY forum kota digital IN , ,

FORTAL, Sekecil apapun perbuatan buruk, walau dikemas sedemikian rupa, entah kapan pasti akan terlihat juga. Demikian pula perbuatan korup. Entah bagaimana caranya, dan dikemas serapih mungkin entah kapan waktunya pasti kentara.
 

Hal inilah yang mrmbuat Muhammad Aditya Firdaus khawatir atas posisi orang tuanya H. Dadang M Fuad sebagai Kepala Kantor Pertanahan Kota Depok. Dia khawatir orangtuanya khilaf dan melakukan tindak korupsi, hanya karena untuk membahagiakan anak dan keluarganya. Sampai-sampai Aditya Firdaus sempat melontarkan kata-kata ke ayahnya “Saya nggak mau kenal bapa lagi kalau bapak korupsi”.
 
“Kekhawatiran yang membuat saya haru bercampur bangga", terhadap anak saya ini”, ungkap Dadang kepada Forum Kota Digital di sela kesibukan di ruang kerjanya. Hal itu jelas menjadi therapi bagi Dadang yang memang dalam posisinya rentan dengan prilaku korup.
 
Walau nampak sepele, sungguh ini merupakan hal yang luar biasa. Betapa tidak, gengsi keluarga untuk hidup mewah merupakan salah satu sebab utama mendorong orang melakukan tindak korupsi. Terlebih seorang Dadang yang mana dia Kepala Kantor Pertanahan. Jelas ruang untuk itu (korupsi-red) sangatlah longgar.
 
Dadang M Fuad sangat bersyukur, karena tak ada tuntutan apa lagi rongrongan dari keluarganya hingga dia harus neko-neko dalam tugas negaranya. Mengenai Firdaus, Dadang sedikit menjelaskan, menjelaskan, memang Aditya Firdaus putera keduanya itu memiliki sifat kepedulian sosial yang cukup, ditambah lagi, walau baru kelas 3 SLTA, nampaknya anak laki-laki nya yang bersekolah di SMA Negeri 5 Bandung itu memiliki jiwa pergerakan seperti ayahnya. Dadang meraba, sepertinya sifat sosial yang dimiliki anaknya itu turunan dari sifat kakeknya yang kritis dan peduli terhadap permasalahan sosial.
 
Bukan cuma itu, ada satu peristiwa yang juga terngiang di benak Dadang. Dimana satu ketika saat Dadang berkeliling bersama anaknya menggunakan mobil Honda Jaz, kemudian mereka mengisi bensin Honda Jaz-nya itu. Seperti biasanya, 

Dadang masuk jalur pompa bensin premium, namun sekonyong-konyong Firdaus yang berada di sebelah ayahnya itu bertanya, “Mengapa pake premium pa....., kan seharusnya pertamax....? Dadang setengah gelagapan mendengar pertanyaan anaknya itu. Belum lagi sang ayah sempat menjawab pertanyaan anaknya itu, 

Firdaus sudah menyodok satu kalimat lagi.. “Kalau pertamax papa anggap mahal, biar belinya pake uang jatah aku aja”, katanya.
Kembali Dadang mendapat kebahagiaan yang demikian menggelitik dari anaknya. 

Pertama anaknya takut dan tak mau kenal bapaknya kalau sampe bapaknya melakukan tindak korupsi, kedua masalah pengisian bahan bakar pertamax yang harus digunakan untuk kendaraan ayahnya, bukan premium. Jelas Firdaus sungguh menginginkan nilai-nilai kesadaran untuk berlaku proporsional dilakukan, paling tidak di lingkungan keluarganya.
 
Menanggapi sikap anaknya itu, Dadang merasa bangga, karena memang dia menginginkan anaknya memiliki sifat dan sikap yang demikian. Pola hidup yang ngga neko-neko yang dilakukan ayahnya ternyata sudah tertular oleh sang anak.

Terkait dengan mental keseharian, jelas hal itu berpengaruh dengan pola kerja. Kantor Pertanahan Kota Depok yang dipimpinnya saat ini, memang terbilang mengalami peningkatan pelayanan yang signifikan Paling tidak ini dikarenakan oleh pengolahan nilai-nilai filosofi kerja Dadang dilingkungan kerjanya. Kaitan dengan prinsip pertanahan, Dadang berharap agar tanah memiliki azas kebermanfaatan bagi kesejahteraan masyarakat hingga masyarakat mendapatkan haknya dengan baik atas tanah yang dimilikinya.
( endro gempar )

Iklan Anda