3 Februari 2015

" BUDAYA SEBAGAI BENTENGNYA BANGSA "

BY forum kota digital IN , , , ,

FORTAL, “Budaya sebagai bentengnya bangsa, dan harus dijaga sepenuh hati ” demikian Andika Hazrumy memandang perihal budaya saat bincang-bincang singkat dengan FKD perihal posisi budaya di mata politik usai rapat Dengar Pendapat komisi III DPR RI di Gedung Nusantara I DPR RI, senin 2/2/2015 kemarin.
 
Agaknya darah H. Chasan Sochib kakek dari tokoh muda kelahiran Bandung,  16 Desember 1985 ini mengalir deras ditubuhnya. Ini nampak dari hasratnya yang kuat untuk melestarikan budaya Tanah Banten , ini tak ubah seperti kakeknya yang dikenal sebagai tokoh kultural Banten.
Kini Andika duduk di Komisi III DPR RI yang membidangi hukum. Andika berpendapat, "hukum sangat bertalian erat dengan, kultur, adat dan budaya, karena sumber dari segala sumber hukum nasional adalah hukum adat, “Jadi jelas kita tidak boleh lepas dari adat dan tradisi luhur”, terangnya.
 
Rusaknya mental dan spiritual bangsa ini, merupakan sebab dari keluarnya kita dari bingkai kultur dan budayanya sendiri, hingga tak jarang terjadi dekadensai moral di setiap individu maupun kelompok. Sampai pada titik kronisnya, kita bakal pangling terhadap diri kita sendiri.
 
Menurut Andika, hal itu tidak boleh terjadi berlarut-larut, kita harus segera kembali pada bingkai kultur dan budaya kita, agar kita tak kehilangan jati diri sebagai bangsa yang beradab dan bertanggung jawab.
 
Terkait dengan budaya Banten, Tokoh Muda Banten ini mengatakan, Banten memiliki khasanah kultur dan karakter budaya yang kuat. Dia mencontohkan salah satunya adalah Debus. Dalam seni Debus ini banyak memuat nilai-nilai filosofi kehidupan masyarakat Banten, diantaranya adalah nilai-nilai keberanian dan kepasrahan kepada sang Kholiq "La haula walaa Quwwata illaa billaahil aliyyil 'adziim" atau tiada daya upaya melainkan karena Allah semata. Jadi, kalau Allah mengizinkan, maka pisau, golok, parang atau peluru sekalipun tidak akan melukai mereka. Jelas ini merupakan gambaran sepirit hidup berketuhanan.

Di Banten pada awalnya kesenian Debus berfungsi seabagai media Islamisasi. Namun, pada masa penjajahan Belanda dan pada saat pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, seni ini digunakan untuk membangkitkan semangat pejuang dan rakyat Banten untuk melawan Belanda.
 

Terkait Debus, Andika berniat untuk melestarikan dan menggali khasanah seni tradisi tersebut. “Melihat dari nilai filosofinya, debus bukan hanya sekedar tontonan, namun karya seni yang sarat tuntunan bagi kehidupan. Untuk mengetahui hal itu, jelas perlu penggalian makna-makna yang ada pada debus itu sendiri”. Terang Andika. (Endro)

Iklan Anda