9 Mei 2015

Bangun Kekayaan Pangan, Bukan Basa-Basi !

BY forum kota digital IN , ,

FORTAL,  Bagi Masyarakat Indonesia, mungkin tidak banyak informasi tentang Negara Ekuador, selain keberadaan Antonio Valencia, winger Manchester United (MU) yang berasal dari negera tersebut. Maklum sebagai besar masyarakat kita adalah pencinta bola. Tapi pernahkah kita berpikir bahwa negara pimpinan Rafael Correa yang hingga kini masih kurang stabil secara politik, mampu menjadi eksportir terbesar dunia untuk komoditas pisang. Ya, pisang, Cuma pisang. Buah yang sering kali dijadikan sebagai bahan senda gurau kaum Adam, namun bagi Ekuador mampu berkontribusi secara maksimal untuk menopang ekonominya. Di tahun 2009 saja komoditas ini mampu berkontribusi 61% bagi PDB sektor agrikultur Ekuador.
 
Ekuador terletak di barat laut benua Amerika Latin dan menghadap langsung ke Lautan Pasifik, secara geografis memiliki kontur alam yang mirip Indonesia. Nama Ekuador sendiri direduksi dari kata equator yang memang melintasi wilayah Negara tersebut. Hubungan Ekuador sendiri dengan komoditas pisang, memiliki sejarah yang cukup panjang. Pisang pertama kali dibudidayakan di wilayah pesisir subur Ekuador pada tahun 1700 dan telah mengekspornya sejak tahun 1910, namun komoditas ini baru mendapatkan perhatian serius saat Samuel Zemurray terpilih menjadi presiden United Fruit Company dan berinisiatif untuk mengembangkan pisang sebagai industri sekitar tahun 1940an. Gagasan Zemurray ini disambut oleh perusahaan lain seperti Standard Fruit yang kemudian mengajak para petani lokal untuk ikut berpartisipasi dalam sebuah inkubator yang selanjutnya menjadi katalis perkembangan industri pisang hingga saat ini.

Dibawah dukungan pemerintahan Presiden Galo Plaza saat itu, Ekuador membuka pintu kerjasama bilateral dengan AS yang memiliki teknologinya. Sebuah wilayah bernama Hacienda Tenguel pun dikonversi menjadi area percontohan dimana semua infrastruktur pendukung dibangun. Mulai dari Pelabuhan hingga pabrik kemasan, dari lembaga keuangan hingga asosiasi petani, supplier dan transportasi domestik dibangun dengan perencanaan yang baik. Banyak pihak terlibat dalam proyek visioner ini yang dikenal sebagai “Empresarios Ecuatorianos del Banano” sebagai penanda visi pembangunan dengan komitmen kuat. Pada tahun 1942, di tengah suasana PD II, pemerintah US memberikan bantuan pendirian lembaga riset (tropical agricultural research center) yang kemudian mampu mendorong berkembangnya komoditas lainnya seperti karet, cacao dan beras untuk diekspor.

Mengapa Ekuador bisa !!!

Ekuador memang tidak memiliki banyak kekayaan jika dibandingkan dengan Indonesia, penduduknya juga masih bergelut kemiskinan dan buta aksara. Namun disinilah letak kelebihannya. Fakta bahwa mereka mampu menguasai 24% ekspor pisang dunia saat ini adalah bukti nyata bahwa mereka mampu menemukan satu kekayaan alam (baca: pangan) yang begitu sangat “simpel” tetapi dikenali oleh rakyatnya. Pemerintahnya tidak perlu teori dan sederet ahli yang harus menjelaskan strategi secara “njilimet”, cukup mengajari para petani mereka cara menanam pisang yang baik. Disaat yang sama pemerintahnya terus memikirkan langkah selanjutnya, membangunnya menjadi industri secara luas, universitas dan lembaga riset dilibatkan termasuk dunia bisnis yang memberinya sentuhan pemasaran yang baik. Buktinya, negeri ini memiliki puluhan brand pisang yang menghiasi supermarket-supermarket di Eropa yang tentu saja berkontribusi bagi kesejahteraan warganya.

Jika ditelusuri lebih jauh pengalaman Ekuador ini dapat diterapkan di wilayah di tanah air, diantaranya Sulsel yang memiliki banyak komoditas yang seperti, kelapa, coklat, kapas atau tebu. Beberapa komoditas ini sudah turun-temurun dikenali masyarakatnya, tetapi tidak pernah berkembang secara optimal. Inkonsistensi kebijakan membuat komoditas-komoditas ini kehilangan peluang untuk bersaing di pasaran dunia. Sebaliknya, kesuksesan Ekuador membangun komoditas pisangnya hingga mampu menopang ekonomi bangsanya setidaknya dapat dijelaskan dalam tiga faktor, yaitu:

Pertama,  Mereka mampu memaksimalkan kekayaan lokal. Pemerintah Ekuador secara konsisten bekerja cukup lama  mengidentifikasi secara serius kekayaan lokal mereka. Tidak banyak memang yang dapat mereka himpun, tetapi memiliki sedikit tapi mampu memaksimalkannya tentu saja jauh lebih penting. Bandingkan dengan beberapa wilayah di tanah air yang memiliki “banyak” sumber kekayaan alam terutama pangan, namun telah puluhan tahun pemerintahan berganti tidak satupun yang berhasil dioptimalkan perannya dan mampu mendorong kemakmuran masyarakat. Sebaliknya, pemerintah Ekuador mampu mengembangkan komoditas pangan berdasarkan realitas yang dikawinkan dengan kondisi alam. Mereka melakukannya tidak sporadis apalagi sebatas retorika politik untuk memupuk popularitas.

Kedua, Visi pembangunan yang bukan basa basi. Visi yang kuat bukanlah sebatas pajangan melainkan harus bisa membawa kita pada tindakan-tindakan nyata untuk mencapai tujuan. Dengan membangun agrikultur berbasis tanaman pisang, pemerintah Ekuador telah mendorong petaninya berpartisipasi secara luas. Petani yang banyak tersebar diseluruh pelosok negeri merasa diberi tempat yang nyata dalam pembangunan. Bayangkan, Sekitar 12% penduduknya bergantung secara langsung pada komoditas ini. Yang lebih mengagumkan lagi lahan-lahan perkebunan tidak dibiarkan dimiliki perusahaan-perusahaan asing. Selain itu Ekuador juga dapat memanfaatkan keunggulan komparatifnya berupa iklim kondusif sepanjang tahun serta dukungan tanah subur yang mampu membuat komoditas pisang mereka menjadi berbeda. Mereka sangat jarang menggunakan pestisida sehingga membuat produk pisang Ekuador bercita rasa tinggi dan menjadi incaran konsumen.

Kemampuan mengidentifikasi masalah sekaligus membaca keunggulan yang dimiliki menjadi bagian penting sehingga sebuah visi pembangunan bisa dijalankan melalui berbagai tindakan yang relevan. Semua berjalan berkesinambungan, melanjutkan dan mengembangkan yang telah ada. Bukan sebaliknya, hanya berorientasi jangka pendek.

Ketiga, Dukungan Strategi. Membangun  agrikultur sebagai upaya membangun kekuatan pangan bukanlah pekerjaan jangka pendek untuk itu dukungan strategi yang tepat mutlak dilakukan. Pemerintah Ekuador telah melakukan banyak hal, termasuk terus mengevaluasi strategi mereka dengan analisa pasar. Di fase-fase awal mereka menjalin hubungan erat dengan beberapa perusahaan multinasional, termasuk peran pemerintah AS dalam mendukung berbagai program pengembangan perkebunan. Namun alih teknologi terus dilakukan terutama keberadaan lembaga riset yang tidak pernah berhenti bekerja. Mereka melakukan berbagai diversifikasi mengembangkan komoditas pisang dalam berbagai bentuk. Mulai dari tepung hingga kripik. Mereka juga memikirkan kemasan, membangun jaringan dan strategi pemasarannya. Saat ini merek-merek pisang seperti Comoesta, Alisa dan Goldenforce mewarnai etalase buah supermarket-supermarket di Eropa dan Amerika.

Akhirnya, kekayaan komoditas (pangan) yang kita miliki tidak pernah ada artinya jika kita tidak pernah memiliki visi yang jelas dalam mengembangkannya. Kita bahkan akan terus menjadi bangsa yang tergantung pada bangsa lain. Menjadi konsumtif terhadap produk-produk asing meskipun komoditas tersebut secara tradisional kita miliki. Fakta beras sudah cukup membuat mata kita terbelalak. Jika kondisinya seperti ini, patriotisme semu menolak impor karena kita memiliki keanekaragaman pangan hanya akan jadi isapan jempol!

--> Inner Shed, 77 HR<-- ( Sumber --->> PENTA Strategic

Iklan Anda