27 Mei 2015

Perubahan & DNA Kepemimpinan

BY forum kota digital IN , ,

FORTAL, Perubahan terjadi dimana-mana dan tidak satu pun entitas di muka bumi ini dapat menghindarinya. implikasinya tentu saja harus dihadapi dengan cara berpikir dan bertindak yang berbeda. Para pengelola organisasi tidak cukup hanya bekerja dengan kualitas manajer melainkan dituntut kualitas lebih, yaitu manajer dengan kepemimpinan (leadership) yang baik.

Different times produce different minds, demikian yang sering kita dengarkan yang berarti pula bahwa kita tidak dapat menyelesaikan masalah hari ini dengan menggunakan solusi masa lalu. Tantangannya  pikiran-pikiran ”baru” tidak bisa lagi ditingkatkan dengan cara biasa-biasa saja, melainkan harus dengan terobosan yang “menembus batas”, yaitu menggunakan visi yang jauh ke depan agar organisasi dapat tumbuh dan bertahan. Jika tantangan ini tidak dapat dijawab maka seseorang/organisasi akan menjadi korban perubahan.

Dilip Mukerjea (1998) dalam bukunya “braindancing”, menyebut era saat ini sebagai Era Daya Saing Kecerdasan (The Age of Competitive Intellience) dimana kemampuan menjawab tantangan sangat ditentukan oleh kualitas berpikir yang tercermin pada pola perilaku seseorang/organisasi. Kualitas yang harus dikembangkan bukan hanya aspek hard side (sisi keras) yang hanya bertumpu pada peningkatkan keahlian (skill) seperti yang banyak dilakukan oleh organisasi-organisasi saat ini, melainkan juga aspek soft side (sisi lunak) yang berfokus pada perubahan perilaku dan mindset.

Dalam buku lain, “Brainware Leadership Mastery” yang ditulis oleh Taufik Bahauddin (2007) diuraikan lebih gamblang bahwa untuk memahami bagaimana perilaku seseorang/organisasi dalam merespon perubahan dapat dijelaskan melalui apa yang disebutnya sebagai DNA Psikologi Sosial. Berbeda dengan DNA Biologis yang mengurai bahan dasar seluruh ciri genetif seseorang, dalam DNA Psikologi Sosial dikenal istilah “memes” (bahasa Yunani) yang dapat mengidentifikasi originitas perilaku seseorang yang akan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Selanjutnya, bagaimana DNA Psikologi Sosial seseorang bereaksi terhadap perubahan yang dihadapi dapat diamati melalui spiral dynamic yaitu suatu perangkat yang secara spesifik mampu memberi pemahaman bagaimana inti-inti kecerdasan (core intelligent) yang dimiliki seseorang bekerja dan merespon sesuatu. Spiral dynamic mampu menjawab pertanyaan mengapa manusia berbeda, mengapa yang lain mau berubah sementara yang lainnya tidak, mengapa reaksi sebagian masyarakat berbeda dengan yang lain dalam menghadapi perubahan, hingga bagaimana mengelola manusia sebagai individu, organisasi maupun masyarakat dalam menghadapi turbulensi.

Singkatnya, memes dan spiral dynamic dapat memberi kerangka ”bagaimana seseorang berfikir tentang sesuatu” melalui dukungan tiga disiplin ilmu yaitu biologi, psikologi dan sosiologi serta komponen spiritual sebagai sistem. Seluruh komponen tersebut berusaha menjelaskan bagaimana memahami dan membangun kualitas leadership seseorang dengan mensinergikan seluruh unsur kecerdasan seperti yang kita kenal, yaitu: Kecerdasan Intelektual (IQ), Kecerdasan Emosional (EQ) dan Kecerdasan Spiritual (SQ). Jika ketiga kecerdasan diatas berhasil ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka kualitas kepemimpinan akan menjadi sangat luar biasa dalam menggerakkan perubahan, sebab  pemimpin dalam konteks ini menjadi bagian dari pola pikir yang terefleksi langsung (embodied) pada perilaku sehari-hari. 
( Andi M. Sadat, PENTA Strategic )

Iklan Anda