3 Oktober 2016

" Saya sudah ada firasat suami bakal mati " kata Istri Abdul Gani

BY forum kota digital IN , , ,


FKD, 03 oct.2016,- Satu persatu saksi kunci penipuan Padepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi angkat bicara. Di Banyuwangi, istri Almarhum Abdul Ghani, salah satu korban tewas yang diduga dibunuh Kanjeng Dimas Taat Pribadi, angkat bicara.

Adalah Erwin Hariyati perempuan berusia 23 tahun ini, terpaksa bersembunyi di rumah asalnya desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Banyuwangi. Setelah turut mendapat ancaman dari padepokan, usai suaminya Abdul Ghani menjadi korban pembunuhan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Sang suami ditemukan tewas di Wonogiri, Jawa Tengah.

Sebelumnya, Erwin Hariyati hidup serumah dengan Almarhum Abdul Ghani, di Desa Semampir, Kraksaan Probolinggo. Sebagai seorang istri, Erwin Hariyati seringkali mendapat cerita dari sang suami tentang berbagai macam kedok penipuan dan kebohongan yang dilakukan oleh Padepokan Dimas Kanjeng.

Tanggal 13 April, Gani pamitan kepada Erwin untuk menemui Taat di padepokannya. Pengusaha batu mulia ini juga menemui mertuanya, membasuh kakinya serta meminta restu dan doa. Tengah malam, Gani berangkat. Sementara Erwin mencemaskan keberangkatan sang suami, hingga terbawa dalam tidurnya.

Erwin Hariyati, istri kedua Abdul Gani (38), warga Probolinggo, Jawa Timur yang tewas dibunuh orang suruhan pimpinan Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi mengaku sempat mendapat firasat suaminya bakal celaka. Perempuan 23 tahun asal Banyuwangi ini bermimpi suami dikeroyok puluhan orang hingga tewas.

Mimpi buruk itu muncul sesaat setelah suaminya pergi menagih janji Taat; segera mengembalikan uang miliaran rupiah milik Gani dan beberapa pengikut lainnya yang dikoordinir Gani dan Ismail. Uang tersebut pernah diberikan kepada Taat untuk digandakan. Namun hingga ajal menjemput, uang itu tak kunjung kembali.

"Sebelum kejadian, saya ada firasat. Saya mimpi suami saya dikeroyok banyak orang. Sejak awal memang saya sudah tahu (suaminya bakal meninggal), tinggal menunggu waktunya saja," kata Erwin kepada merdeka.com, Minggu (2/10). 

Kata Erwin, sebelum kejadian nahas itu, memang Gani mengaku kerap menerima ancaman. Kemudian, demi keselamatan sang istri, Gani mengajak Erwin pindah dari Probolinggo. Mereka pulang ke kampung ke Banyuwangi, ke rumah orang tua Erwin.

Selanjutnya, saat tinggal sementara di Banyuwangi, semangat Gani meminta uangnya kembali masih meledak-ledak. Seperti hendak berangkat perang, cerita Erwin, Gani bulatkan tekad. Meski beberapa kali menerima ancaman, Gani tetap berangkat menemui Taat.

"Sebelum berangkat, suami pamit ke saya dan ke orang tua minta restu. Kaki orang tua saya dibasuh, minta didoakan. Firasat mau dibunuh sudah ada. Tapi karena dijanjikan uangnya dikembalikan, suami saya berangkat juga malam itu," katanya mengingat-ingat.

Erwin juga mengaku, saat suaminya masih sibuk melaporkan ancaman Dimas Kanjeng ke Jakarta, juga pernah mengalami kejadian buruk.

"Suami saya bolak-balik dari Probolinggo ke Jakarta untuk melapor (Mabes Polri). Waktu pulang dari Jakarta, saya juga ada firasat. Mobil suami saya kecelakaan di Bondowoso. Tapi suami saya selamat," kenangnya lagi. 

Kembali perempuan yang belum dikaruniai momongan ini bercerita. "Awal kejadian, suami saya bermaksud keluar dari padepokan. Karena dia cerita ke saya, kalau ini enggak benar. Penggandaan uang itu cuma trik. Buktinya uang tak pernah balik. Makanya suami saya pingin keluar. Tapi diancam. Kalau sudah jadi anggota, sulit keluar, karena pasti diancam," ceritanya. 

Tindakan 'makar' Gani ini, juga dilakukan rekannya; Ismail. Gani dan Ismail, memang lama berkawan dengan Taat, jauh sebelum Padepokan Kanjeng Dimas di Probolinggo didirikan pada medio 2007 silam.

Namun di Tahun 2015, tiga karib ini pecah kongsi. Ismail dan Gani yang turut membesarkan nama padepokan serta banyak merekrut anggota, berniat keluar. Keduanya juga meminta uangnya kembali utuh.

Nahasnya, sebelum niat itu terlaksana, Ismail ditemukan tewas. Diduga dia dibunuh kaki tangan Kanjeng Dimas. Jasad Ismail ditemukan di perbatasan Situbondo-Banyuwangi tahun lalu. April 2016, giliran jasad Gani ditemukan di Wonogiri, Jawa Tengah.

"Suami saya dan Ismail itu teman. Juga sama Taat, sejak muda memang sudah berteman, jauh sebelum ada padepokan," tuturnya lagi.

Makanya suami saya tahu betul, masih cerita Erwin, kalau semua itu ternyata cuma trik. "Gak ada penggandaan uang. Buktinya uangnya gak pernah kembali. Suami saya sudah berkorban banyak. Dia juga punya peran ikut merekrut anggota, yang sudah menyumbang miliaran rupiah," ungkap Erwin.

Iklan Anda